Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah penting, sebab apa yang
sering kita lakukan mempunyai makna jauh lebih penting daripada apa yang kita
katakan. Ucapan atau ungkapan klise seperti “sebuah gambar sama nilainya
dengan seribu kata” menunjukkan alat-alat indra yang kita gunakan untuk
menangkap isyarat-isyarat nonverbal sebetulnya berbeda dari hanya kata-kata
yang kita gunakan. Salah satu dari beberapa alasan yang dikemukakan
oleh Richard L weaver (1993) bahwa kata-kata pada umumnya
memicu salah satu sekumpulan alat indra seperti pendengaran, sedangkan komunikasi
nonverbal dapat memicu sejumlah alat indra seperti penglihatan, penciuman,
perasaan, untuk menyebutkan beberapa. Dengan sejumlah alat indra yang
teransang tampaknya orang akan merespon isyarat-isyarat nonverbal secara
emosional, sedangkan reaksi mereka kepada hanya kata-kata lebih bersifat
rasional. Hal yang sama dapat dibuat orientasi bagi otak kanan dan otak
kiri. Nonverbal cendrung lebih kepada otak kanan yang bersifat
afektif atau emosional. Kata-kata cenderung lebih kepada otak kiri yang
bersifat kognitif atau rasional.
Namun demikian harus jelas bahwa pengetahuan kita
mengenai komunikasi nonverbal tidaklah lengkap atau sempurna. Pengenalan
pertama mengenai komunikasi nonverbal pada zaman Aristoteles sekitar 400-600
SM, tetapi pendekatan kontemporer mengenai komuniksi nonverbal dapat ditelusuri
pada karyaCharles Darwin dalam bukunya The Expression of
Emotions in Man and Animal. Tetapi meskipun sejumlah besar studi dan
pendekatan dewasa ini, kita saja belajar mengenai cara-cara bagaimana
komunikasi nonverbal mempengaruhi manusia. kita masih saja belajar
mengenai perbedaan anatara manusia dalam menyampaikan komunikasi nonverbal dan
mengerti komunikasi nonverbal itu. Kita juga masih saja belajar cara-cara di
mana komunikasi nonverbal mempunyai arti dalam kehidupan manusia.
A.
Defenisi Komunikasi Nonverbal
Menurut Muhammad
Budyatna (2011), Komunikasi nonverbal adalah setiap informasi atau
emosi dikomunikasikan tanpa menggunakan kata-kata atau nonlinguistk.
Komunikasi nonverbal bisa berupa ekspresi wajah, isyarat, sikap, pola nafas,
gerakan mata, dan ketegangan otot. Komunikasi nonverbal juga sering
disebut sebagai komunikasi bahasa tubuh.
Prilaku
atau komunikasi nonverbal adalah dimensi komunikasi manusia yang pokok.
Sistem nonverbal menyumbang 65 – 93 porsen dari total makna komunikasi (Birdwhistell,1970;
Hickson, Stack & Moore,2004; Mehrabian, 1981). Menurut riset yang lain,
dampak total dari komunikasi kita terdiri atas kata-kata (7 %), nada suara
(38%), dan bahasa tubuh (55%) (Adam Khoo dalam bukunya berjudul ‘Master
Your Mind Design Your Destiny).
B.
Ciri-ciri Komunikasi Nonverbal
Menurut Muhammad Budyatna
dan Leila Mona Ganiem (2011), ciri atau karakteristik komunikasi
nonverbal dapat dibagi menjadi enam, yaitu :
1.
Memiliki sifat berkesinambungan
Kata-kata
yang keluar dari mulut kita ada waktunya atau sewaktu-waktu, isyarat-isyarat
nonverbal kita keluar secara berkesinambungan. Sebagai contoh, seseorang
mengajukan sebuah pertanyaan kepada kita. Kecuali bagaimana kita meresponnya,
orang itu yang mengajukan pertanyaan kepada kita mungkin akan mencari
petunjuk-petunjuk terhadap reaksi kita. Apakah kita akan berbicara atau
tidak ia akan lebih dekat menatap wajah kita, tubuh dalam arti gerakan atau
postur, suara kita. Terdapat isyara-isyarat yang digunakan sebagai dasar
untuk mengerti respon kita. Soalnya ialah bahwa kita mengirim dan
menerima pesan-pesan nonverbal dalam arus yang tidak terputus dan terus
menerus. Selagi kita mengamati sikap dan perangai seseorang, orang tersebut
mungkin sedang mengamati kita juga.
2.
Komunikasi nonverbal kaya akan makna
Coba
pikirkan saat terakhir anda pergi ke dokter ketika anda merasakan ada
gejala-gejala penyakit tetapi tidak tahu penyakit apa yang anda derita.
Anda mungkin mendengarkan ketika dokter membuat anda menjadi bingung dan
mungkin juga takut drngan mrnggunakan istilah-istilah teknis yang bersuku kata
banyak atau polysyllabic untuk menjelaskan penyakit anda. Tetapi apa yang
anda lakukan? Anda menatap wajah dokter dengan hati-hati untuk melihat apakah
anda dapat menemukan penyakit apa yang sebenarnya anda derita. Bagaimana
si dokter mengucapkan kata-kata itu. Suara macam apa yang keluar dari
mulut si dokter, misalnya seperti “hmm-m-m” atau “aha!”yang anda dapat deteksinya?
Dalam situasi yang demikian, kita mencari isyarat-isyarat nonverbal bahkan yang
paling kecil pun untuk menafsirkannya, terutama apabila kita tidak mengerti
isyarat-isyarat verbal.
3. Komunikasi
nonverbal dapat membingungkan
Meskipun
komunikasi nonverbal kaya akan makna, tetapi dapat juga membingungkan.
Isyarat-isyarat tertentu dapat berarti sesuatu yang secara keseluruhan berbeda
dari apa yang kita bayangkan. Seorang pria yang duduk di sebuah sofa
sambil menyilangkan kaki disamping seorang wanita. Nyatanya pria tersebut
tidak mempunyai perhatian terhadap wanita itu karena kaki yang ia silangkan
berada jauh dari wanita tersebut. Ada orang yang selalu menyilangkan
kakinya yang kanan ke kaki yang kiri, apapaun alasannya. Itu adalah
kebiasaan mereka, terasa nyaman dan tidak mempunyai makna tertentu sejauh
komunikasi nonverbal berlangsung kecuali mungkin untuk menunjukkan bahwa mereka
merasa senang denagn situasi seperti itu. Ini merupaka sesuatu hal yang
baik untuk menunjukkkan perbedaan anatar perilaku yang terjadi secara alami dan
otomatis, dan komunikasi yang terjadi dengan maksud dan tujuan. Kita juga
tidak dapat berasumsi bahwa wanita yang menyilangkan tangan atau bersedekap
adalah pertanda sebagai orang yang berpikirna sempit dan kaku, bisa saja karena
ia merasa dingin. Kita harus berhati-hati dalam menafsirkan
isyarat-isyarat nonverbal. Kita tidak selalu mendapatkan informasi yang
cukup untuk membuat penilaian, dan dugaan-dugaan kita bisa saja jauh dari
akurat dan tepat.
4. Komunikasi
nonverbal menyampaikan emosi
Apabila
anda merenungkan mengenai ini, bahwa objek-objek dan tindakan-tindakan dapat
membangkitkan lebih banyak emosi daripada kata-kata karena objek dan tindakan
kurang abstrak dibandingkan kata-kata. Kata-kata biasanyan lebih banyak
digunakan pada penampilan intelelektual. Mendengar bahwa seseorang
berteriak atau terluka hamper tidak sekuat seperti melihat orang itu berteriak
atau terluka. Apabila kita ingin menunjukkan kesungguhan atau ketulusan
hati, maka wajah dan isyarat tubuh kita agaknya akan lebih efektif daripada
ucapan-ucapan kita, meskipun kata atau ucapan yang diperkuat oleh
isyarat-isyarat nonverbal akan menunjukkan pesan yang paling benar atau dapat
dipercaya. Karena isyarat-isyarat nonverbal terikat begitu dekat dengan
emosi, sejauh mana pengertian kita mengenai pesan-pesan nonverbal bergantung
kepada bagaimana empatiknya kita. Orang yang empatik dan tajam
perhatiannya amat memahami isyarat-isyarat nonverbal. Memahami ekspresi
verbal memerlukan kemampuan yang lebih. Ekspresi nonverbal, dipelajari
lebih dini dan seringkali terkait secara dekat kepada emosi manusia secara
universal, adakalanya lebih mudah untuk memberikan makna itu bisa kurang
sempurna keakuratannya.
5. Komunikasi
Nonverbal dikendalikan oleh norma-norma dan peraturan mengenai kepatutan
Norma
dan peraturan pada umumnya amat berbeda dari satu budaya ke budaya yang
lain. Kebanyakan norma dan peraturan kita pelajari sejak kecil dari
bimbingan orang tua atau keluarga. Beberapa dari norma dan peraturan kita
pelajari dari hasil pengamatan orang lain. Ada juga yang kita pelajari
dari kesalahn dan kegagalan dan hukuman. Misalnya kita belajar untuk
tidak mengiterupsi ketika seseorang sedang berbicara, untuk tidak mengkritik
orang lain di muka umum, atau tidak menggunakan bahasa vulgar di hadapan para
anggota yang berbeda gender.
6. Terikat
pada budaya
Ben
Thompson berkunjung ke Jepang untuk menegosiasikan kerjasama dengan Haru
watanabe. Sepertinya mereka melihat keuntungan dari penggabungan dari semua
sumber daya mereka. Namun Thompson merasa ada yang salah pada
negosiasinya. Setiap kali mereka bicara, Watanabe terlihat tidak tenang
dan menolak kontak mata. Thompson berpikir apakah Watanabe sedang
menyembunyikan sesuatu. Sementara itu, Watanabe berpikir mengapa Thompson
begitu kasar kalau memang ia ingin kerjasama.
Ternyata,
dilihat dari sisi komunikasi nonverbal, jelas disini ada perbedaan budaya yang
berpengaruh. Disatu sisi, Thompson orang Barat, memaknai kontak mata
sebagai sebuah tanda kejujuran dan hormat, sementara sisi lainnya, Watanabe
yang berbudaya jepang, menganggap bahwa kontak mata adalah wujud prilaku
kasar dan mengganggu.
Budaya
pada hakikatnya merupakan gejala nonverbal. Yakni kebanyakan aspek dari
budaya kita dipelajari melalui pengamatan dan mencontoh bukan dengan pengajaran
verbal secara eksplisit. Prilaku nonverbal mengkomunikasikan keyakinan,
sikap, dan nilai-nilai budaya kepada pihak lainnya. Itulah sebabnya
kebanyakan orang tidak menyadari dengan perilaku nonverbalnya sendiri.
Hal tersebut diperankan tanpa pikir, spontan dan tanpa sadar. Tetapi ini
adalah tepat sekali karena halini sering kali sulit untuk mengidentifikasi dan
menguasai komunikasi nonverbal dari budaya lain. Kita hanya tahu bahwa sesuatu
itu tidaklah cocok. Budaya adalah satu yang paling abadi, paling kuat,
pembentuk yang tidak terlihat dari perilaku kita (weaver II, 1993).
C. Bentuk-bentuk
Komunikasi Nonverbal
Menurut Julia
T Wood dalam bukunya, Komunikasi Interpersonal Interaksi
Keseharian, tipe-tipe komunikasi dibagi antara lain:
1. Kinesika
Kinesika
adalah posisi dan gerakan tubuh, termasuk wajah. Kita memberi tanda
dengan jelas mengenai bagaimana perasaan kita dan menilai diri melalui
bagaimana kita mengendalikan tubuh. Seseorang yang berjalan dengan cepat dengan
ekspresi muka yang pasti akan dipersepsikan memiliki tekad daripada seseorang
yang berjalan luntang-lantung dengan pandangan yang tidak fokus. Berbicara
dengan menggunakan tangan, mimik muka, gerakan mata adalah bentuk kinesika.
2. Haptics
Haptics
adalah indera peraba atau sentuhan. Banyak peneliti yang percaya bahwa
menyentuh atau disentuh adalah esensi kehidupan yang sehat (Benyamin &
Werner, 2004; Field,2003). Bayi yang didekap erat dan lembut berkembang
menjadi orang dewasa yang percaya diri yang memiliki gaya kelekatan yang aman (Field,
2003; Mwakalye & DeAngelis,1995).
Sentuhan
juga mengkomunikasikan kekuasaan dan status. Orang dengan status yang
tinggi menyentuh orang lain dan menyerbu ruang merdeka dibandingkan denga yang
dilakukan oleh orang denga status lebih rendah (Hall, 2006; Hall et
al.,2004).
3. Tampilan
fisik
Kebudayaan
Barat menempatkan penilaian yang tinggi yang ekstrem pada tampilan fisik.
Seperti pada interaksi tatap muka, kebanyak orang memperhatikan bagaimana
penampilan orang lain. Kita sering menilai awal seseorang dengan dari
penampilannya, atau kesan pertama.
Apakah
tampilan fisik memiliki pengaruh pada hasil yang kita dapatkan? Mungkin
saja. Sebuah studi pada 2500 pengacara laki-laki dan perempuan
menunjukkan hubungan antara tampilan fisik dan mendapatkan kekuasaan.
Pengacara yang dianggap menarik mendapatkan 14%kekuasan lebih tinggi daripada
yang dianggap kurang menarik (“Good-Looking Lawyers”, 1996).
4. Artefak
Artefak
adalah objek personal yang digunakan untuk mengumumkan identitas dan warisan
kita, juga untuk personalisasi lingkungan kita. Banyak orang yang
menggunakan avatar untuk melambangkan identitas dalam komunikasi di dunia
maya. Dalam komunikasi tatap muka, kita membentuk citra melalui
bagaimana kita berpakaian dan apa barang yang kita bawa atau
gunakan. Kita menggunakan artefak untuk mendefinisikan teritori pribadi (Wood,
2006). Tentara menggunakan seragam, dokter menggunaka baju putih,
mahasiswa dengan tas ransel, pekerja kerah biru dengan seragam dan sepatu
boots.
5. Paralanguage
Paralanguage
adalah komunikasi yang diucapkan (vokal) tapi tidak menggunakan
kata-kata. Misalnya bisikan, hembusan nafas, dan kualitas vokal seperti
volume, titinada, dan perubahan nada. Aksen dan pengucapan dan keragaman
yang kompleks pada kalimat juga termasuk paralanguage. Paralanguage negatif
seperti mencibir dan menertawakan denga nada pada suara, diasosiakan dengan ketidakpuasan
pada pernikahan (Gottman, Markman, &Notarius,1977; Noller,1987).
Nada yang mengejek atau kasar mengkomunikasikan cemoohan atau ketidaksukaan
lebih empati daripada kata-kata.
6. Keheningan
Keheningan
justru dapat menyampaikan pesan yang kuat. “saya tidak berbicara dengan anda”
sebenarnya membicarakan banyak hal. Kita menggunakan keheningan untuk
mengkomunikasikan makna yang berbeda, contohnya, keheningan dapat menyimbolkan
kesenangan saat suasana intim yang sangat nyaman, sehingga orang-orang tidak
perlu bicara. Keheningan juga dapat menandakan suasana yang canggung
seperti saat pertama kali berkenalan dengan orang baru di kereta api atau bis.
Pada
bebeapa kasus, keheningan terkadang digunakan untuk menyangkal keberadaan orang
lain. Pada beberapa keluarga anak-anak disiplinkan dengan cara
diacuhkan. Juga kadang mendiamkan pada pasangan dan menolak untuk
berbicara dengannya adalah bentuk keheningan.
KESIMPULAN
Komunikasi
nonverbal sama pentingnya dengan komunikasi verbal bahkan mungkin lebih, karena
dapat mengungkapkan sesuatu lebih dalam dan mengena yang kadang tidak bisa
diungkapkan denga kata-kata. Kita bisa menilai orang lain dengan
memperhatikan komunikasi nonverbal yang mereka gunakan. Mereka bisa
saja menyembunyikan atau memanipulasi komunikasi verbalnya, namun sangat sulit
untuk menyembunyikan bahasa tubuhnya. Orang yang berkata saya tidak
gugup, namun tangannya kelihatan gemetar, atau suaranya serak, berkeringat dan
mimik wajah yang aneh, itu pertanda bahwa komunikasi nonverbal lebih bisa
diandalkan.
Menurut Muhammad
Budyatna (2011), Komunikasi nonverbal adalah setiap informasi atau
emosi dikomunikasikan tanpa menggunakan kata-kata atau nonlinguistk.
Komunikasi nonverbal bisa berupa ekspresi wajah, isyarat, sikap, pola nafas,
gerakan mata, dan ketegangan otot. Komunikasi nonverbal juga sering
disebut sebagai komunikasi bahasa tubuh.
Selain
itu, ada beberapa ciri-ciri komunikasi nonverbal diantaranya, Memiliki sifat
berkesinambungan, Komunikasi nonverbal kaya akan makna, komunikasi nonverbal
dapat membingungkan, komunikasi nonverbal menyampaikan emosi, komunikasi
nonverbal dikendalikan oleh norma-norma dan peraturan-peraturan mengenai
kepatutan /kelayakan, dan komunikasi nonverbal terikat budaya.
Ada
beberapa bentuk komunikasi nonverbal diantaranya, kinesik, haptics, tampilan
fisik, artefak , paralanguage dan keheningan.
DAFTAR PUSTAKA
Budyatna,
Muhammad; & Ganiem, Leila Mona. 2011. Teori komunikasi antarpribadi.
Jakarta : kencana.
Soyomukti, nurani.
2010. Pengantar ilmu komunkasi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Khoo, Adam; Tan,
Stuart.2013. Master your mind Design your destiny. Jakarta : Elex Media
komputindo.
Wood, T Julia.
2013. Komunikasi Teori dan Praktik. Jakarta : Salemba Humanika.
Wood, Julia. 2013.
Komunikasi Interpersonal Interakasi Keseharian. Jakarta : Salemba Humanika.

Komentar
Posting Komentar